Sporty Magazine official website | Members area : Register | Sign in

::.. Komentar mu lebih berharga dari Emas, Berlian, dan Intan. Thanks... ;-) ..::

Artikel terkini...

Entri Populer

SUARA MU SPIRIT JIWA JUANG KU

Jumat, 27 April 2012


-> Suara Papua
(Foto: Seniman dan Musisi Papua, Arnold Clemens Ap)

Oleh: Marthen Goo


Arnold Ap, itulah nama mu...
Nama yang termasyur di jiwa dan raga dalam juang ku...
Alunan suara mu, seakan membakar jiwa tuk harus berjuang dengan penuh kesemangatan...

Engkau boleh dibunuh 28 tahun yang lalu...
Engkau boleh dihilangkan karena kenafsuan para manusia kanibal....

Namun engkau seakan api membara di hati dan jiwa...
Engkau Seakan Harapan Baru Dalam kesemanagatan tuk bangkit juang...

Arnol, Engkau Patriot Bangsa Papua ku...
Engkau Pahlawan kebenaran ku....

Semangat juang mu kan ku teruskan hingga ajal hidup ku, demi sebuah kebenaran di Bumi Papua kita.

(Sumber: kiriman di Facebook, Kamis (26/04) Pukul 20:32 WJ)

ARTI KETULUSAN

(¯`v´¯)
`·.¸.·´`·.¸•*¨¨*•.¸¸♥`·.¸.¸¸.•*♥


(Foto: Tebai Mapiha's cover facebook)



Oleh: Tebai Mapiha.


Pernahkah kau mendapat ''PUJIAN''
... Dari seorang yang ''BUTA''
Yang tak mampu melihat Kecantikanmu??

Dapatkah kau mendengar ''KATA SAYANG''
Dari seorang yang ''BISU''
Yang tak sanggup ucapkan sepatah kata pun??

Dan mampukah kau membayangkan,
''MERASAKAN SENTUHAN KASIH''
Dari seorang yang ''CACAT''??

Dari situlah kalian bisa mengartikan sebuah,
''KETULUSAN MENYAYANGI SESEORANG''

Bahwa...

''RASA SAYANG'' yang Tulus bukan dinilai dari
''KESEMPURNAAN''

(Sumber: Status Facebook Tebai Mapiha, Jumat (27/04) Pukul 23:54 WJ.)

KEKAYAAN PAPUA DITENGAH PERGOLAKAN DUNIA

Jumat, 06 April 2012


(Foto: facebook.com/Yusak Pakage)
by John Pakage on Thursday, April 5, 2012 at 11:14pm ·
(Indonesia, China, Austrlia,dan Amerika)

Pemerintah mewajibkan perusahaan tambang asing mendivestasikan sahamnya secara bertahap paling sedikit 51 persen kepada mitra Indonesia. Divestasi harus dilakukan setelah lima tahun hingga tahun ke 10, sejak perusahaan itu berproduksi.

Yang dimaksud mitra Indonesia adalah pemerintah, pemerintah provinsi, atau pemerintah daerah kabupaten/kota, Badan Usaha Milik Negara, Badan Usaha Milik Daerah, atau perusahaan swasta nasional.

Ketentuan itu diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2012 yang ditandatangani Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 21 Februari 2012. Termasuk juga PT Freeport yang mana Saat ini, sebanyak 90,64% kepemilikan saham Freeport Indonesia dikuasai perusahaan asal Amerika Serikat (AS), yaitu Freeport Mc MoRan, termasuk di dalamnya 9,36% dikuasai lewat anak usahanya PT Indocopper Investama. Sementara sisanya, sebanyak 9,36% dipegang oleh pemerintah Indonesia.

Menaggapi peraturan PP tersebut PT Freeport Indonesia menyatakan tak akan ikut dalam Peraturan Pemerintah (PP) nomor 24 tahun 2012 yang mewajibkan perusahaan tambang asing menjual 51% saham ke pihak Indonesia. Pasalnya, secara hukum Freeport hanya akan mengikuti aturan Kontrak Karya (KK) yang sudah dilakukan dua kali sejak tahun 1967.

Menurut Presiden Direktur Freeport Rozik B Soetjipto, dalam KK tersebut, Freeport hanya diwajibkan mendivestasi kepemilikan sahamnya hingga sebanyak 20% tanpa adanya batas waktu.

Sementara Pemegang saham 9,36 persen lainnya adalah   PT Indocopper Investama adalah perusahaan tambang milik Group Bakrie. Entah mengapa begitu membaca perusahaan tambang milik Group Bakrie tiba-tiba jadi teringat kasus Lapindo di Sidoarjo? Ya, semburan lumpur Lapindo telah menyengsarakan kehidupan warga Porong, Sidoarjo hingga kini.
Bukan rahasia lagi bahwaOperasi PT Freeport hingga saat ini telah dihentikan operasinya dan dampaknya kerugian para pemegang saham didepan mata. Tidak beroparasinya perusahaan raksasa ini juga turut menyumbang krisis ekonomi diberbagai negara. Termasuk Indonesia.

Walaupun Pemerintah Indonesia hanya menerima 9,36 persen saham Freeport tetapi akan berpengaruh dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Untuk mengantisipasi dampaknya Pemerinth Indonesia telah menambah dana yang tak sedikit. Lihat saja Defisit anggaran dalam APBNP 2012 naik menjadi Rp 190,1 triliun (2,23 persen) dari PDB, naik sebesar Rp 66,1 triliun apabila dibandingkan dengan defisit anggaran dalam APBN 2012 yang ditetapkan sebesar Rp 124 triliun (1,5 persen PDB).

Batalnya kenaikan harga BBM bersubsidi membuat pemerintah harus mencari dana tambahan untuk membiayai besaran subsidi yang membengkak. Selain optimalisasi pendapatan, pemerintah akan menambah utang baru sebesar Rp 25 triliun.
Tentu Pemerintah Indonesia selama ini sudah ada fasilitas pembiayaan dari China melalui skema PBC (Prefential Buyers Credit) atau kredit lunak dengan jumlah sebesar US$ 1 miliar, tapi sudah teralokasi untuk pembiayaaan proyek-proyek terutama energi dan transportasi.

Tentu pemerintah China telah menyatakan kesiapannya untuk memberi bantuan lunak kepada Indonesia seperti selama ini telah ada kerja sama yang cukup erat antar dua negara ini.

Dalam situasi ekonomi dan politik dalam negeri serta di regional terus memanas Amerika telah mengirim Pasukan pertama dari 2500 tentara elit Amerika yang akan diturunkan untuk membantu pertahanan Australia, Rabu (4/4) tiba di negara itu.

Mereka tiba di pusat pelatihan gabungan bersama sebagai bagian dari perubahan kebijak an militer AS di kawasan Asia Pasifik. AS mengirim militer untuk mengamankan persaingan kekuatan senjatanya di Asia, dimana khususnya Cina, sedang memperluas kekuatan militernya.

Barak militer di Darwin tersebut berada sekitar 800 kilometer dari wilayah Indonesia. Hal itu memungkinkan tentara bertindak cepat terhadap masalah kemanusiaan dan keamanan di Asia Tenggara. Langkah penempatan pasukan ini sebelumnya telah membuat marah Beijing. Cina mengatakan, langkah itu bisa mengikis kepercayaan dan membuat perang dingin baru.

Perlu diperhatikan adalah Pemerintah Indonesia tidak memberi kenyamanan bagi operasinya perusahaan Freeport akibatnya terjadi banyak insiden yang membuat karyawan tidak aman lagi padahal Tentara dan Polisi Indonesia telah menerima dana keamanan dari Freeport dalam jumlah yang besar.

Kedua, lahirnya Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2012 yang ditandatangani Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 21 Februari 2012 lalu yang mana mewajibkan Freeport untuk mendivestasikan sahamnya secara bertahap paling sedikit 51 persen padahal dalam kontrak kerja yang dibuat bertentangan dengan peraturan baru ini. Tentu ini bisa membuat Amerika mengalami kerugian walaupun Amerika telah menerima keuntungan yang tak sedikit dari tanah Papua.

Ketiga, sementara perang dingin dan ketegangan  antara Amerika dan china terus meningkat Indonesia terus mengadakan komunikasi yang baik dengan China. Seperti selama ini pemerintah Indonesia telah mendapatkan bantuan lunak dalam jumlah yang tak sedikit dari China.

Situasi ini tentu berpengaruh pada pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang terus mendapat kontra produktif dari beberapa partai politik atas kebijakan menaikan harga bahan bakar minyak.

Yang luput dalam Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2012 adalah berapa persen yang semestinya orang Papua sebagai pemilik hak ulayat tempat beberapa perusahaan asing beroperasi. Misalnya Freeport dan BP Tangguh di Bintuni, Papua Barat.

# John Pakage

Massa KNPB Demo Dukung Konfrensi di Belanda dan Kemerdekaan West Papua

Senin, 02 April 2012

 (Foto:http://phaul-heger.blogspot.com/)
PAPUAN, JAYAPURA --- Demo Tuntut Merdeka, Abepura Lumpuh Total.
Diposting oleh centraldemokrasi • Pada Monday, 2 April 2012 13:34 WP. 


Senin (02/04),  ribuan Rakyat Papua yang berdomisili di Jayapura mengatas namakan KNPB, Demo Damai Tuntut KEMERDEKAAN WEST PAPUA. Dan Mendukung Peluncuran IPWP dan Konferensi New Guinea Raad di Belanda.


TEMPO.CO ( Senin, 02/04/2012 ) Ribuan warga Papua kembali berunjuk rasa menuntut merdeka di Jayapura, Papua, Senin, 2 April 2012. Akibat demo, Kota Abepura dan sekitarnya lumpuh total.
Ratusan warga berkonvoi dengan motor dan membawa bendera komite Papua Barat. Sementara di lingkaran Abepura, ribuan pengunjuk rasa berorasi dan dikawal ketat aparat dari Kepolisian Jayapura.

Dalam sebulan terakhir, Komite Papua Barat telah menggelar dua kali demo menuntut pelepasan Papua. “Personil yang diturunkan sebanyak delapan ratus lebih, ditempatkan di beberapa titik,” kata Kepala Bidang Humas Kepolisian Daerah Papua, Ajun Komisaris Besar Polisi, Yohanes Nugroho, Senin siang, kepada media.

Ia menambahkan, aparat gabungan yang bersiaga terdiri dari 400 personil Kepolisian Resor Jayapura dan dari Brigade Mobil dan aparat Polda Papua. “Kita berharap tidak anarkis,” ujarnya.

Unjuk rasa warga Papua mengakibatkan sejumlah pertokoan dan swalayan tutup. Demonstran juga memblokade jalan raya Jayapura-Sentani hingga menyebabkan macet. Polisi dengan senjata dan dua mobil penghalau massa bersiaga.

Dari pantauan di lapangan, demonstran membawa spanduk tuntutan referendum dan meneriakan “merdeka”. Beberapa warga Papua memakai pakaian adat dan koteka serta membawa panah. Beberapa orang mengecat tubuhnya dengan simbol Bendera Bintang Kejora.

Di Padang Bulan, Abepura, beberapa warga menahan kendaraan yang lewat dan meminta agar kaca mobil diturunkan. Aksi pengunjuk rasa ini menjadi tontotan warga. “Biasanya kan demo anarkis, kita berharap demo kali ini tidak merusak fasilitas umum,” kata Ratna, Warga Abepura, kepada Media.

Hingga sore, warga Papua masih memadati Lingkaran Abepura menyampaikan aspirasinya. Rencananya pendemo akan menuju Gedung Perwakilan Rakyat Papua untuk bertemu anggota Dewan. (Waiyai/14)



SURAT UNTUK PEMIKIR "KEPENTINGAN" PRIBADI

Sabtu, 24 Maret 2012


Oleh: Waiyai Dogopia*)


(Foto: google.com)

Tulisan ini adalah surat untuk para pemikir kepentingan pribadi. Sekaligus sebagai pengingat, buat kita semua. Maksud dan tujuannya adalah agar kita semua bisa mengantisipasi kedepan dan menjadikan hidup ini milik ”bersama”.

Penulis juga memohon maaf jika tulisan ini membuat pembaca; tersinggung, depresif, dan membuat pembaca terganggu. Mohon maaf juga apabila tulisan ini tidak sesuai dengan aturan jurnalis, aturan penulisan (EYD) dan kata-kata nya tidak teratur/tidak sesuai.

Sifat dari tulisan ini adalah membangun. Jadi, kritik dan saran penulis terima apa pun itu.

Saat itu, sewaktu masih di asuh oleh mama sampai pada bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP), saya dibentuk / diarahkan oleh orang tua saya untuk menjadi seorang yang nantinya membahagiakan orang tua. Saat itu, saya hanya bisa; menangis, mendengar, melanggar, dan belajar. Yang mana, hanya bisa diarahkan.

Dan saya hanya ada pada keadaan itu, terbentuk sesuai dengan keadaan saat itu. Saat di Bangku Sekolah Menengah Atas/Umum (SMA/U) saya baru mulai sadar bahwa realita ini sedang berkolaborasi antara “depan layar dan belakang layar.”

Untuk menjadi orang yang baik dihadapan orang tua adalah berkelakuan baik dan berjalan di jalan yang benar. Kita tahu bahwa orang tua adalah wakil dari Allah Tritunggal. Jadi, apa yang kita lakukan positif maupun negatif telah, sedang, dan akan dipertanggung jawabkan di akhirat. Karena, hidup ini hanya sekali di Bumi bertopeng ini. Jadi, saya pastinya ikuti yang sifatnya, “depan layar,” jikalau sifatnya “belakang layar” apa yang harus saya katakan ke Tuhan nanti, saat ajalku tiba.

Saat saya masih diasuh mama sampai pada SMP, saya diajarkan memilih jalan yang benar dan berkelakuan baik. Jadi, tidak salah, kalau saat ini saya pun demikian.

“Selagi masih bernafas, masih bisa makan walaupun sehari se-kali, dan masih bisa saling menyapa, Apa yang seharusnya kita perbuat…?” itulah kata yang keluar dari Bapa saya, pertanyaan yang bermakna membuat saya menjadi lebih tenang dan semangat dalam hidup yang penuh dengan teka-teki ini.

Teringat akan sebuah film, “Tokoh Besar” di mana saat Yohanes Pemandi, anak dari Marta, sedang mempermandikan penduduk Nasaret satu per satu. Saat itu munculah para prajurit-prajurit pengumut/penagih pajak dan hendak memeras salah seorang fakir miskin. “hai kau ular beludak,” kata Yohanes. Yohanes menghampiri mereka dan berdebatlah mereka di sana.

Yohanes Pemandi memberikan pencerahan agar tingkah laku mereka segera diubah. ”Jika engkau memunyai dua buah baju, berikanlah satu ke yang tidak punya” Kata Yohanes Pemandi. “Cukupkanlah dirimu dengan gajimu,” Tambahannya sambil menuju Sungai Yordan, yang mana dipakai untuk permandian penduduk nasaret saat itu.

Memang seharusnya demikian dalam hidup ini. Namun, faktanya tidak demikian. Seperti pada tulisan sebelumnya, “Rupiah Membunuh Jiwa Kemanusiaan Ku.” Semua permasalahan, persoalan, biasa yang menjadi otaknya adalah “para pemikir kepentingan,” merekalah akar/sumbernya.

Perebutan jabatan, persaingan yang tidak sehat, egois, dan kawan-kawannya adalah karena memikirkan nilai rupiah, memikirkan kepentingan pribadi yang sifatny sesaat saja. Dampak dari ini semua ada pada anak dan cucu kita serta masyarakat yang tidak tahu apa-apa menjadi korban.

Kehidupan ini dinamis, berubah-ubah, tidak selalu konstan. Kehidupan ini penuh teka-teki, penuh pertanyaan. Kehidupan ini perlu pikir, perlu bernafas, perlu makan. Kehidupan ini sebenarnya menjadikan kita sebagai manusia yang jujur, adil, penuh damai. Kehidupan ini sempurnah bila seiring dengan cinta, kasih, sayang, pemerhati, penuh damai.

Namun, kehidupan ini tidak membutuhkan nilai rupiah. Kehidupan ini tidak mengajarkan mementingkan pribadi, kehidupan ini malah mengajarkan kita untuk melawan, ”KEPENTINGAN PRIBADI.” Karena, pada umumnya hal ini dapat mengorbankan banyak orang termasuk anak dan cucu kita.

”...Kehidupan yang sedang kita jalani saat ini adalah kehidupan yang kita jalani kemarin. Dan kehidupan yang akan kita jalani besok adalah kehidupan yang sedang kita jalani saat ini. Jadi, baik maupun tidak baik kehidupan kita ada ditangan kita dan biarkan semua itu terjadi menurut kehendak-NYA...”  ~Waiyai Dogopia~

"RUPIAH" MEMBUNUH JIWA KEMANUSIAAN


Oleh: Waiyai Dogopia*)


(Foto: google.com/korupsi)
Sebelumnya penulis akan menguraikan, apa itu: Rupiah, Membunuh, Jiwa, dan kemanusiaan, secara umum. Dan pada paragraf akhir akan diisi dengan kesimpulan. Yang mungkin mempermudah pembaca untuk melihatnya. Dan sebenarnya kita semua sudah mengetahuinya. Namun penulis hanya ingin mengingatkannya.

Perkataan “rupiah” berasal dari perkataan “Rupee”, satuan mata uang India. Indonesia telah menggunakan mata uang Gulden Belanda dari tahun 1610 hingga 1817. Setelah tahun 1817, dikenalkan mata uang Gulden Hindia Belanda.

Mata uang rupiah pertama kali diperkenalkan secara resmi pada waktu Pendudukan Jepang sewaktu Perang Dunia ke-2, dengan nama rupiah Hindia Belanda. Setelah berakhirnya perang, Bank Jawa (Javaans Bank, selanjutnya menjadi Bank Indonesia) memperkenalkan mata uang rupiah jawa sebagai pengganti.

Mata uang gulden NICA yang dibuat oleh Sekutu dan beberapa mata uang yang dicetak kumpulan gerilya juga berlaku pada masa itu. Sejak 2 November 1949, empat tahun setelah merdeka, Indonesia menetapkan Rupiah sebagai mata uang kebangsaannya yang baru.

Kepulauan Riau dan Irian Barat memiliki variasi rupiah mereka sendiri tetapi penggunaan mereka dibubarkan pada tahun 1964 di Riau dan 1974 di Irian Barat.

Seperti yang kita ketahui bahwa rupiah adalah mata uang dari Negara Indonesia. Sebagai bangsa yang dijajahnya yaitu WEST PAPUA dituntut untuk wajib menggunakannya. Dimulai dari nilai satu sen rupiah dan berakhir pada seratus ribu rupiah. “Trada rupiah, trada hidup,” kata mereka yang duduk dikursi empukh dan mereka yang mementingkan diri sendiri.

Rupiah adalah benda mati yang tak tentu. Namun, memunyai nilai yang membuat rupiah bisa berada pada siapa saja sesuai dengan kebutuhannya saat itu dan besok.

Apa itu Membunuh? Seperti yang kita ketahui bersama membunuh adalah menghentikan (mematikan) atau mempertidak berdayakan sesuatu maupun seseorang. Hanya saja membunuh itu bahasa bakunya, bahasa sehari-hari yang sudah tidak lasim lagi buat kita ucapkan.

Banyak sekali istilah membunuh itu yang diikutkan denga kata benda, seperti: Membunuh orang, membunuh karakteristik, membunuh binatang, membunuh TV, membunuh Bola (biasanya memakai kata ”mematikan”), Dan masih banyak lagi. Namun, di sini terlihat bahwa membunuh ini terbagi atas tiga bagian; Membunuh yang bersifat benda hidup, membunuh yang bersifat benda mati, dan membunuh yang bersifat kejiwaan (kebatinan). Maksud dari tulisan ini adalah ”Membunuh yang bersifat kejiwaan.” Yang mana, tidak sebagai manusiawi yang mengabaikan nilai kebersamaan dan mengorbankan orang lain.

Jiwa adalah sesuatu yang menghidupkan, sehingga seseorang itu bisa berdiri tegar tanpa ada keraguan apapun. Banyak contoh yang menggunakan kata ”jiwa,” seperti: Berjiwa besar, Jiwa kemanusiaan, jiwa pengorbanan, dan yang lainnya. Yang dimaksudkan dalam tulisan ini adalah Jiwa Kemanusiaan. ”Hidup mu tergantung pada Jiwa Kemanusiaan mu,” kata Nelson Mandela.

Kemanusiaan adalah bersifat manusia. Kenapa itu bisa ada? Karena, Manusia diciptakan secitra, serupa, segambar dengan Yang Maha Kuasa. Jadi, segala sesuatu yang bermuara kebaikan adalah Manusia, seperti yang diinginkan Yang Maha Kuasa.

Hal yang paling membahayakan adalah saat-saat darurat, yang saat itu rupiah sedang tidak berada di tempat. Sejumlah rencana pun pasti datang menghampiri, baik itu buruk mau pun baik.

Apabila saat itu kesempatannya bersifat kebersamaan dan kamu memanfaatkan momen itu untuk berapa persen rupiah kamu kantongi, di saat itu lah kamu membunuh jiwa kemanusiaan mu. Karena, secara tidak langsung saat itu kamu sedang bertarung antara sifat buruk dan jiwa kemanusiaan mu. Apabila saat itu kesempatan yang datang bersifat individu (pribadi mu), memang pantas kamu kantongi rupiah itu. Karena, itu milik mu.

Rupiah membunuh jiwa kemanusiaan ku, yang terpenting adalah bagaimana kamu bisa mengontrol diri mu di saat-saat darurat itu. “Trada rupiah, trada hidup,” kata mereka yang duduk dikursi empukh dan mereka yang mementingkan diri sendiri.

”Kalau masih bisa bernafas, masih bisa melihat sesama, dan masih bisa makan (walaupun, sehari sekali). Ya, itulah hidup yang sesungguhnya,” kata anak jalanan dan keluarga yang sederhana.

Acuannya adalah manusia hidup untuk meninggal dan meninggal itu pasti ada disetiap manusia. Jadi, apa yang harus saya persiapkan sebelum malaikat maut datang menjemput saya?

Pertanyaan buat kita semua, agar menjadi pedoman untuk hidup lebih baik. Saya sebagai penulis pemula, sedang mencobanya. Walaupun, berat pasti bisa bersama Sang Juru Slamat. Karena, yang diinginkannya adalah Kebenaran, Keadailan, dan Kebaikan yang mana semua itu dirangkup dalam, ”KEMANUSIAAN.”

Diri ku sayang, diri ku malang

by Waiyai Dogopia*)




Di kala matahari membangunkan saya
Sa kagum melihat semua-semua ciptaan Tuhan
apa lagi Bumi pemberian Tuhan, Bumi Papua
di sanalah sa merasa berada di sorga yang Hampa

Hidup di Bumi papua ini,
seakan-akan hidup di padang pasir
oh sayangnya diri saya ini
saya yang gagah berdiri di sana

Namun, lemah dan tak berdaya
hidup dirimba amunisi,
hidup di rimba strategi yang mematahkan saya
oh, malangnya diri saya

oh.... diri-ku sayang, diri-ku malang
dari mana ku harus memulainya,
kapankah saya memulainya,
apa yang harus saya siapkan,
siapakah yang hendak membantu saya...

oh... diri-ku sayang, diri-ku malang
hanya tak terhingga pertanyaan yang selalu menemaniku
oh sayangnya hidup di air darah ini...
tak terhingga pertanyaan. Namun, satu jawaban dengan satu kata, “LAWAN.”.

KERJA SAMA AMERIKA, INDONESIA SIAPKAN HERCULLES

Rabu, 14 Maret 2012

(Foto: google.com/herculles)
INDONESIA, Jakarta --- Herculles disiapkan untuk bertempur. Buktinya, TNI Akan Tempatkan Pesawat Tempur di Papua.


Mr Scot Marciel, Duta Besar Amerika Serikat
, menyerahkan
Satu unit pesawat angkut Herculles milik TNI Angkatan Udara yang telah menjalani perbaikan berat di ARINC Aerospace, Oklahoma, Amerika Serikat (AS),

Pada tanggal, 24 Februari 2012,
Wakil Kepala Staf TNI Angkatan Udara (WaKSAU), Marsdya TNI Dede Rusamsi, menyambut kedatangan pesawat jenis angkut itu. Dan langsung diarahkan ke home base Skadron Udara (Skaud) 31 Wing I Lanud Halim Perdanakusuma.


Pesawat Hercules C-130 B dengan call sign A-1323, itu selama 18 bulan menjalani perbaikan hasil program Depot Maintenance (PDM). Program itu merupakan kerja sama antara pemerintah AS dan RI.


"Pemerintah Indonesia dan TNI Angkatan Udara mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah ASS dan Kepala Staf Angkatan Udara AS dan para teknisi yang telah menyelesaikan perbaikan pesawat C-130 Hercules dengan tepat waktu," ujar Kadispenau. Dikutip Media melalui Suara Karya Online, Senin (27/02).


Tambah Kadispenau, "kembalinya C-130 B A-1323 ke Skadron Udara 31, maka kekuatan operasional pesawat di Skadron Udara 31 makin bertambah, yang mempunyai tugas khusus dalam penerjunan pasukan, air to air refueling serta pengangkutan dukungan logistik."


SD

Pemekaran Wilayah di Papua, Antara Solusi dan Masalah...?

Jumat, 09 Maret 2012

Category: Opini
Created on Friday, 09 March 2012 Published Dat
Psted by Sonny Dogopia

Oleh A. Octoviaen Gerald Bidana* 


(Foto: Dok Prib., Gerald B.)
 
“Pemekaran wilayah sebagai jawaban akan harapan pembangunan yang memihak, menyeluruh dan yang mencerdaskan masyarakat ataukah sebuah proyek inkonsistensi penyelenggaraan pembangunan pemusnahan manusia dan alam semesta Papua?”


Pendahuluan
 
Pemekaran wilayah adalah upaya pemerintah dalam membangun masyarakat bangsa Indonesia di berbagai daerah sesuai situasi dan kondisi. Pemekaran tentu membuka peluang kerja bagi masyarakat dalam meningkatkan taraf hidupnya secara lebih baik. Pemekaran mendukung pengelolaan potensi sumber daya alam dan sumber daya manusia secara lebih baik. Pemekaran wilayah juga dimaksudkan agar tercipta pelayanan publik yang seringkali mengalami kendala bisa teratasi secara optimal. Pemekaran tentu didukung oleh pemerintah pusat atas dasar usulan masyarakat di wilayah yang mau dimekarkan, seperti Papua Barat.

Namun, pemerintah pusat sampai pemerintah daerah mesti jelih melihat dan melakukan survey atau kajian lebih mendalam tentang pemekaran wilayah ini. Agar tidak keluar dari apa yang diinginkan, diharapkan masyarakat setempat. Jangan sampai wilayah pemekaran itu justru dijadikan ajang bisnis dan ladang politik praktis bagi segelintir orang saja. Lalu, masyarakat awam pemilik tanah dan kekayaan alam mau diapakan? Perlu diingat, kondisi ini pasti akan meninggalkan sejumlah probelmatika bagi orang asli Papua. Memang, sangat memprihatinkan!

Pemekaran wilayah di Papua diibaratkan seperti rentetan bayi  yang lahir dalam waktu yang sama dan dengan jumlah yang banyak melalui rahim yang satu dan yang sangat kecil. Coba bayangkan, bayi yang lahir pertama belum merangkak kok tiba-tiba lahir bayi berikutnya dari rahim ibu yang satu dan yang sama? Sangat ironis dan aneh bila memperhatikan peristiwa semacam ini terjadi dalam kehidupan masyarakat yang memang belum pernah mengalaminya. Keadaan ini bisa saja masyarakat secara gamblang mengatakan bayi itu pasti cacat secara mental walaupun postur tubuhnya kekar. Sesungguhnya kondisi ini yang dialami masyarakat daerah-daerah pemekaran di Papua. Perlu mendapat perhatian serius oleh pihak berwenang terhadap pemekaran-pemekaran wilayah di Papua. Perlu ada kajian-kajian secara mendalam oleh para akademisi maupun secara institusi pemerintahan tentang sejumlah potensi wilayah yang hendak dimekarkan. Aspek terpenting yang perlu diperhitungkan dalam hal pemekaran adalah kesiapan sumber daya manusia, yang memang secara akademik sungguh berkualitas, cerdas, terampil. Hal ini penting dalam mendorong perkembangan pembangunan dengan harapan aspek-aspek lain dapat terwujud dengan berjalannya waktu.

Tujuan mulia dari otonomi khusus Papua adalah pemberian kewenangan penuh untuk mengatur dan membangun wilayahnya oleh masyarakat asli Papua sendiri. Setiap aspek pembangunan harus dibangun ala Papua. Adalah membangun pola pendidikan kontekstual, pola pertanian sesuai kondisi dan kebutuhan wilayah, kesehatan secara memadai, politik praktis yang terarah, pembangunan museum-museum budaya dan seni suku-suku di Papua, penyelesaian pelanggaran hak asasi manusia, dan sebagainya. Dan bukan sebaliknya memperkuat, meningkatkan sistemn orde lama atau orde baru. Sangat aneh, sebagian besar orang tidak memahami baik tujuan otonomi khusus Papua. Kelompok ini selalu dimanfaatkan untuk memecah belah orang Papua, seperti kasus perbedaan gunung-pantai yang meruncing pada pemekaran daerah baru yang adalah kabupaten suku atau keluarga. Fenomena ini harus dipetakan secara ala Papua dan oleh orang Papua sendiri untuk menemukan benang merahnya.

Penyatuan pemahaman belum terjadi sehingga dimana-mana muncul pemimpin baru, entah sudah siap secara ilmu pengetahuan dan mental atau tidak tetap mengkampanyekan terbentuknya wilayah-wilayah administratif baru. Faktor pendorong utama pemekaran wilayah administratif baru hanya karena kepentingan jabatan kelompok tertentu dan lebih jauh ialah kepentingan ekonomi bagi non pribumi. Dengan mengedepankan slogan orang Pupua butuh kesejahteraan. Selanjutnya, faktor tingkat pemahaman dan kematangan mental para pemimpin daerah dan pusat, yang sesungguhnya terbentuk melalui pola penyelenggaraan pendidikan.

Fenomena ini harus perlu diseriusi pemerintah pusat dengan mengadakan evaluasi secara kritis dan kredibel untuk revitalisasi seluruh sistem dan kebijakan apa saja untuk tanah Papua selama ini. Kelemahan ini sudah dipahami masyarakat Internasional dan masyarakat Papua. Orang Papua telah menyatakan bahwa pemerintah pusat sudah sangat keliru memahami esensi otonomi khusus Papua dan tidak sanggup mendorong orang Papua mengimplementasikan program pembangunan secara benar dan akuntabel.


Kesungguhan pemahaman para pengambil kebijakan publik di tanah Papua

“Satu kekayaan yang patut dipahami para pemimpin daerah adalah terdapat lebih dari 250 suku bangsa. Kesekian banyak suku inilah yang memiliki potensi sumber daya alam melimpah seperti kayu, beragam tumbuhan-tumbuhan, berbagai jenis batuan, tanaman palawija dan umbi-umbian, sederet sungai dengan hasilnya, hasil danau dan laut, berbagai jenis ternak, kebudayaan, hewan-hewan lindung (cenderawasih, kuskus pohon, burung mambruk, kangguru, kasuari, kura-kura dll), kayu pinus dan damar, bahan galian (mineral) dan sejumlah potensi lainnya”.

Para pemimpin daerah semestinya memahami realitas kehidupan masyarakat Papua, agar tidak salah dalam perumusan program dan pengambilan kebijakan pembanguan. Pada segi lain, para pemimpin dapat mengendalikan proses pembangunan dengan cara mendorong seluruh jajaran pemerintahan untuk menciptakan good governence secara lebih baik. Dengan prinsip bahwa setiap orang memiliki kemampuan (potensi diri) maka didorong untuk mengembangkan potensi terpendam tersebut yaitu IQ, SQ, dan EQ-nya dalam bekerja. Pembangunan ke arah positif akan tercapai apabila adanya keterlibatan sungguh dari setiap orang dalam menjalankan tugas dan fungsinya sesuai prosedur dan keahliannya. Untuk itu perlu membangun pemahaman bersama dengan menciptakan ruang-ruang komunikasi produktif, yang secara lambat laun membentuk karakter pemimpin yang memihak kepada masyarakatnya.

Oleh karena itu, para pemimpin Papua harus paham atas realitas diri sendiri dan kehidupan masyarakat Papua sejak tahun 1960 sampai tahun 2000. Sadar bahwa Anda lahir dan besar dalam kondisi bagaimana saat itu. Jelas-jelas mereka belum merasakan pengaruh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dirasakan oleh jutaan orang di berbagai belahan dunia, termasuk sebagian besar masyarakat Indonesia. Realitas ini sebagai catatan penting dan bagaimana fokus kebijakan diambil untuk pembangunan yang memihak rakyat.

Otonpmi khusus  berhasil membentuk 32 kabupaten dan 2 kota serta diikuti ratusan distrik dan ribuan kampung. Daerah-daerah baru justru meninggalkan setumpuk masalah bagi masyarakat setempat. Seluruh aspek pembangunan tidak terbangun sesuai target-target karena penyediaan dana secara nyata tidak pernah terealisasi walaupun bahasa media selalu terungkap.

Pemahaman esensi otonomi khusus sebagai penyesiaan kesempatan luas bagi orang asli Papua untuk membangun diri melalui bidang pendidikan, ekonomi, sisoal budaya, kesehatan, politik, hak asasi manusia dan sebagainya bukan menjadi jaminan untuk mendorong pemekaran daerah baru akan tetapi perlu penguatan anggaran kepada daerah-daerah yang telah ada sebelum itu. Otonomi khusus lahir karena perjuangan panjang dengan pengorbanan darah dan jiwa manusia Papua. Maka, diharapkan setiap aspek dapat dibangun secara konsisten, transparan dan berkelanjutan. Agar dapat membangun kesadaran masyarakat dalam mewujudkan pembangunan yang memihak, menyeluruh dan yang mencerdaskan warga bangsa. Namun selama ini belum menunjukkan sentuhan pembangunan masyarakat atau belum nampak perubahan yang signifikan, baik secara personal, kelompok bahkan secara institusional walaupun suadah terjadi banyak daerah baru. Masyarakat asli Papua semakin tidak percaya dengan kebijakan pemerintah.

Dari pemekaran ke pemekaran, semua aspek pembangunan manusia Papua belum dibangun secara maskimal. Padahal kalau dicermati secara baik, jumlah penduduk Papua sangat sedikit dibanding  daearh lain. Satu segi yang tidak pernah tersentuh pemerintah ialah pendekatan persuasif sebagai sesama dan bukan menunjukkan kegagahannya karena status dan sebagainya. Dimana kelebihan orang Papua yang harus diangkat dan ditransformasikan dalam pelaksanaan program pembangunan adalah sikap keterbukaannya. Para pengambil kebijakan harus memiliki pengetahuan ini agar tidak melakukan kesalahan lagi untuk selanjutnya. Pada pihak lain, masyarakat Indonesia sudah mengetahui jumlah dana pembangunan otonomi khusus Papua, yang mencapai 30 triliun dalam satu tahun. Muncul sebuah pertanyaan, bagaimana pemakaian anggaran itu dalam mewujudkan segala aspek pembangunan Papua? Apakah dilimpahkan langung kepada pejabat daerah atau masih ada campur tangan pemerintah pusat?

Ada sejumlah pejabat daerah mengaku, jumlah dana yang bunyi mencapai 30 milyar namun selalu tersendat pada aturan dan taktik kerja pemerintah pusat sehingga tidak sepenuhnya dilimphakan ke pemerintah daerah. Tidak tahu dengan pertimbangan apa? Tetapi masyarakat selalu berteriak kepada kami yang ada di birokrasi.

Ini sebuah dilema bagi sebagian besar pejabat orang asli Papua. Sementara itu, ada juga pejabat asli Papua yang selalu dinomorsatukan. Pendekatan seperti ini perlu analisis dan terekspouse pada publik.


Ketersediaan sumber daya manusia asli Papua dalam proses pembangunan Papua

Berapa banyak orang asli Papua yang siap secara ilmu dan ketrampilan untuk menjadi pemimpin di setiap daerah pemekaran baru? Bagaimana pendapatan asli daerah untuk mendorong kemajuan daerah tersebut? Pertanyaan ini dijawab dengan memanfaatkan 30 triliun/tahun  melalui dana otonomi khusus.  Ketersediaan kualitas sumber daya manusia Papua kini menjadi dilema bagi proses pembangunan Papua. Proyek terbesar sekaligus menjadi kebutuhan mendasar orang Papua adalah penyelenggaraan pendidikan secara luas.

Dimana kahekat pendidikan adalah “dilaksanakan untuk membebaskan manusia dari berbagai persoalan hidup yang melingkupinya maka pendidikan harus dipahami sebagai tolok ukur perwujudan seluruh aspek kehidupan manusia”. Sebab itu, pendidikan harus terus dilaksanakan secara kontinyu dalam rangka pembebasan manusia dari kebodohan dan kemiskianan yang selalu dijadikan proyek terselubung pemrintah selama ini.

Pandangan pada bagian ini dapat mendorong saya mereposisi pendapat  seorang ahli pendidikan dari Brazil (Paulo Freire) tentang pendidikan. Paulo Freire mengatakan bahwa pendidikan sebagai salah satu upaya untuk mengembalikan fungsi manusia menjadi manusia agar terhindar dari berbagai bentuk penindasan, kebodohan sampai kepada ketertinggalan. Oleh karena manusia sebagai pusat pendidikan, maka manusia harus menjadikan alat pembebasan untuk mengantarkan manusia menjadi makhluk yang bermartabat. Pandangan ini sangat tepat bagi para penyelengara pembangunan di seluruh tanah Papua agar ada kebijakan afirmatif pada sektor pendidikan.

Salah satu kelompok masyarakat Papua yang segera mendapatkan perhatian serius pemerintah daerah adalah mahasiswa. Mahasiswa dari setiap daerah kabupaten/kota yang menyebar di Indonesia perlu diinventarisir baik untuk diberdayakan. Dengan harapan mahasiswa dapat memanfaatkan sejumlah fasilitas belajar, agar menemukan dirinya sebagai manusia yang siap mentrasnfer ilmu pengetahuan kepada sesama di tanah Papua suatu kelak. Mahasiswa telah ada di dunia yang sangat menantang untuk berkembang lebih maju atau  harus mundur dan hidup dalam keadaan biasa-biasa.

Habitus baru mahasiswa harus dibangun mulai dari sendiri, perkuliahan dan melalui organisasi. Agar mewujudkan kualitas hidup yang menunjukkan mahasiswa kesungguhan, yang kemudian dapat memberikan kontribusi demi pembangunan Papua dari kampungnya masing-masing. Pola-pola belajar yang harus dimiliki sebagai mahasiswa Papua harus perlu ditingkatkan agar tidak dianggap masih bodoh, miskin dan tertinggal. Dengan memiliki pola-pola belajar yang benar dipastikan lambat laun dapat mengatasi rendahnya kualitas sumber daya manusia Papua yang selama ini selalu dipublikasikan di berbagai media.

Oleh sebab tu, pemerintah daerah perlu melakukan terobosan-terobosan jitu pada sektor pendidikan untuk mempraktekan gagasan-gagsan pendidikan hadap masalah, pendidikan realitas sosial, pendidikan yang memerdekakan yang dikemukakan Freire mulai dari Papua. Dimaksudkan agar terjadi peningkatan kualitas masyarakat. Peningkatan kualitas masyarakat harus menjadi prioritas utama agar tercapai cita-cita meskipun belakangan ini banyak masalah melanda orang Papua yaitu rendahnya mutu dan buruknya pendidikan memperparah gerak langkah generasi muda kini. Peningkatan kualitas sumber daya manusia Papua harus dan pasti melalui pola penyelenggaraan pendidikan ala Papua yaitu menyadarkan setiap orang akan diri dan lingkungannya.

Berbicara tentang sumber daya manusia tidak bisa terlepas dari penyelenggaraan pendidikan. Kesiapan sumber daya manusia lewat pendidikan adalah tanggung jawab seluruh komponen masyarakat, mahasiswa sebagai salah satu kelompok masyarakat ilmiah yang sangat potensial yang harus dokontrol ketat agar output-nya dapat diandalkan di masa depan bangsa Papua. Semoga bermanfaat!!

*Penulis adalah mahasiswa Pasca Sarjana Magister Manajemen Administrasi Publik Universitas Gadjah Mada, LITBANG Lembaga Intelektual Tanah Papua Se-Indonesia.

Delapan Mahasiswa Papua di Yogyakarta Masuk Seleksi Secaba dan Akmil

by Ivan Aditya | Jumat, 9 Maret 2012 | 08:11 WIB | Dibaca: 221 |
Posted & Edited by Sonny Dogopia


[Dandim 0734 Yogyakarta, Letkol (Arh) Ananta Wira saat memberikan pengarahan kepada para mahasiswa Papua. (Foto : Ivan Aditya)]
YOGYA (KRjogja.com)- Delapan orang mahasiswa Papua yang selama ini menuntut ilmu di Yogyakarta berhasil terpilih untuk mengikuti tes seleksi pendidikan Sekolah Calon Bintara (Secaba) dan Sekolah Calon Perwira (Secapa) Akademi Militer (Akmil) TNI AD. Terpilihnya delapan mahasiswa Papua ini merupakan tindak lanjut program dari Markas Besar (Mabes) TNI AD untuk menjaring putra-putra daerah yang berada di rantau guna pendorong pecepatan pembangunan wilayah Indonesia bagian timur.

Kedelapan mahasiswa Papua ini diantaranya Simon Mandosir, Frangklin S Ruamba, Matusala Takanyuai, Ottow Geissier Wanenda, Baldus Dimara, Yance Sorabut, Kaleb Obniel Tarami dan Lausen Getsemani Santoso. Saat ini mereka masih tercatat sebagai mahasiswa di beberapa perguruan tinggi negeri dan swasta di Yogyakarta, bahkan seorang diantaranya telah merampungkan perkuliahannya dan kini telah menyandang gelar S-1.

Komandan Kodim (Dandim) 0734 Yogyakarta, Letkol (Arh) Ananta Wira mengungkapkan, Yogyakarta, Jakarta, Semarang, Surabaya dan Palembang dipilih Mabes TNI AD sebagai lokasi penjaringan warga Papua. Nantinya setelah lulus pendidikan dan menjadi prajurit TNI AD, mereka akan ditugaskan ke daerah masing-masing untuk membangun Papua.

“Wilayah lainnya juga dipilih Mabes TNI AD untuk lokasi penjaringan para mahasiswa dari Indonesia timur. Kebetulan wilayah Yogyakarta diplih untuk menjaring khusus mahasiswa Papua yang ingin menjadi prajurit,” kata Ananta Wira di Makodim 0734 Yogyakarta, Jumat (9/3).

Kedelapan warga Papua tersebut, lanjut Ananta Wira, telah mengikuti tahapan-tahapan tes seleksi sejak bulan Januari lalu. Seleksi meliputi beberapa materi, diantaranya kesehatan, kesamaptaan, pengetahuan umum, mental dan ideologi, psikologi serta penentuan akhir (pantukhir).

“Kini tinggal satu tahapan akhir yakni pantukhir. Untuk pantukhir Secaba akan dilakukan pada bulan April, sementara pantukhir Akmil pada bulan September beserta para pendaftar reguler lain,” ungkapnya.

Setelah lolos pantukhir, mereka akan langsung memasuki masa pendidikan. Bagi para calon bintara, para mahasiswa Papua ini akan mengikuti pendidikan di Resimen Induk Komando Daerah Militer (Rindam) IV Diponegoro di Magelang selama lima bulan, sementara untuk para calon perwira akan mengikuti pendidikan di Akmil, Magelang selama empat tahun.

Ananta Wira berharap kedelapan mahasiswa Papua di Yogyakarta yang selama ini dididiknya tersebut akan berhasil lolos pantukhir dan mengikuti pendidikan. Keberhasilan ini, lanjutnya, hendaknya dapat dicontoh para mahasiswa di kota ini untuk dapat mengikuti jejak mereka menjadi patriot bangsa. (Van)

Follow Me

Categories

 

Total Pageviews